Mimpi-mimpi yang buyar

Rasanya banyak mimpi yang buyar karena pandemi ini. Target dan pencapaian menjelang tengah tahun yang diharapkan sudah tercapai, kenyataannya harus ditunda atau bahkan menghilang.

Ada seorang kawan yang berniat resign dari tempatnya bekerja pada pertengahan tahun nanti, kemudian membatalkan niatnya resign dan menjadi freelance. “Nanti dulu deh, yang penting ada pegangan dulu huhu.” Katanya.

Mungkin saja di tempat lain ada yang sudah akan berangkat haji tahun ini, dan dengan segala ketidakpastian, entahlah apakah haji akan diadakan tahun ini.

Tahun ini niatnya ingin mencoba lagi mendaftar beasiswa yang sudah beberapa kali saya coba lupakan. Entah karena masih penasaran atau memang tak bisa lupa karena selaluu saja teringat. Tapi volume mimpi terdebut sudah tidak sekencang tahun-tahun lalu sih.

Sejak setahun lalu juga saya sempat berpikir untuk membuat toko offline dari produk kayu-kayuan jualan saya. Sempat pula terpikir untuk meminjam suntikan dana dari sanak famili yang dirasa berpunya untuk menyewa tempat. Namun, keinginan itu saya tepis karena saran Abang yang bilang tidak elok rasanya meminta pinjaman jika memang tidak mendesak sekali. Toh, anak-anak juga masih belum bisa ditinggal sambil berjaga toko. Ah iya, jangan-jangan hanya nafsu semata saja karena melihat merebaknya kedai usaha di sana sini.

Ketika masa pandemi ini, saya bersyukur belum jadi mewujudkan keinginan membuka toko itu. Apa jadinya jika ternyata semua tidak berjalan yang diharapkan dan harus pula memikirkan pinjaman.

Saya jadi ingat adegan Rangga di AADC2 yang menurut saya alamiah dan nggak sempurna. Yaitu ketika Rangga yang saya kira sudah sukses di Amerika dengan tulisan-tulisan ataupun puisinya, ternyata malah mengubur minatnya itu dan bekerja di sebuah kedai kopi. Tidak semua berjalan mulus, bukan?

Rasa-rasanya di tahun ini kita tidak perlu bermimpi banyak-banyak dan mewah. Cukup dengan semoga bisa melewati pandemi dengan sehat dan selamat bersama keluarga saja itu sudah kenikmatan luar biasa.

Semoga Allah wujudkan.

Aamiin allahumma aamiin.

2 thoughts on “Mimpi-mimpi yang buyar

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: